Wednesday, October 5, 2011

ADOLF HITLER

Pada tahun- tahun pertama masa sekolahnya, Hitler cukup berprestasi. Nilai-nilainya lumayan, ia banyak kawan. Pada suatu saat, ayahnya menyuruhnya mempersiapkan diri untuk menjadi pegawai negeri. Hitler tidak setuju. Ayahnya menginginkan ia memasuki sekolah teknik, Hitler memilih Gymnsium karena ingin menjadi seniman. Dalam konflik generasi ini, nilai-nilai Hitler jatuh. Ia tidak lulus ujian masuk ke Akademi Seni di Wina. Pada puncak konflik, ayahnya jatuh di jalanan dan meninggal.

Ia diliputi perasaan bersalah. Tidak lama sesudah itu, ibunya mati karena kanker payudara. “Saya menghormati ayah saya”, kata Hitler. “Tetapi, hanya ibu yang saya cintai”. Setahun kemudian, Hitler gagal diterima di Perguruan Tinggi Arsitektur. Pada tahun 1908 tanpa uang sepeserpun, ia pergi ke Wina. Di kota besar itu, ia berjumpa dengan mahasiswa–mahasiswa Yahudi yang cerdas dan kaya. Ia mendengarkan mereka berdebat tentang sosialisme dan marxisme. Ia kagum sekaligus benci.

Ia hidup dari penghasilan sebagai pedagang asongan. Seringkali ia menganggur. Ia tinggal di gubuk kecil, yang disewa sangat murah. Seringkali ia kekurangan makanan. Pakaian dan penampilannya sangat kontras dengan yang nampak pada orang-orang Austria, orang-orang Yahudi, tokoh-tokoh gerakan buruh, dan para pemikir sosialis. “Pada masa inilah “, tulis Hitler dalam Mein Kampf, “dalam benakku terbentuk suatu gambaran dunia dan falsafah hidup yang menjadi dasar dari segala tindakanku”.

Kita tahu Hitler kemudian berkuasa. Ia membenci semua orang yang pernah dikaguminya di masa sengsara –Yahudi, orang Austria, Marxis, Sosialis, Tokoh Buruh. Ia tidak menyenangi parlemen - karena ia pernah menyaksikan perdebatan mereka dengan rasa iri. Parlemen menghancurkan gagasan kepemimpinan. Walaupun begitu, partai yang didirikannya diberi nama National-Sozialismus (disingkat NAZI). Ketika ia berkuasa, ia menghimpun seluruh rasa bersalah dan frustasi masa lalunya. Ia membunuh jutaan Yahudi, menangkapi orang-orang yang menentangnya, dan meledakan perang dunia ke dua.

Masa lalu Hitler boleh jadi dialami banyak saudara-saudara kita. Pedagang asongan yang dikejar-kejar, para drop outs sekolah atau Universitas, atau siapa saja yang memandang kemewahan saudara-saudara sebangsanya dengan kagum dan benci. Siapa yang sanggup menjamin bahwa tidak akan ada di antara mereka yang menjadi Adolf Hitler ?


No comments: